KEAJAIBANMATEMATIKADALAM MEMBUKTIKAN KEBENARAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah sumber agama islam pertama dan utama. Di dalam Al- Qur’an terdapat banyak sekali rahasia ilahi yang masih belum terungkap. Salah satunya adalah tentang maksud dan rahasia atas angka-angka yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan memperoleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al- Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lainnya.
A. Keterkaitan Matematika dengan Al- Qur’an
Istilah Mathematics (Inggris) berasal dari bahasa Yunani, Mathematike yang berarti “relating to learning”. Berasal dari akar kataMathema yang berarti pengetahuan/ilmu, dan berhubungan erat dengan kata Mathanein yang berarti belajar/berpikir. Jadi, berdasarkan etimologi, kata Matematika berarti “ilmu yang diperoleh dengan bernalar”.
Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya. Secara empiris, diproses dalam struktur kognitif dan akhirnya disimpulkan dalam konsep matematika.
Matematika juga merupakan bahasa universal Ilmu Pengetahuan. Ilmuwan Jepang bisa berkomunikasi dengan Ilmuwan Jerman dengan Matematika, tidak perlu pakai bahasa inggris. Matematika juga merupakan “bahasa tuhan” dalam menciptakan alam semesta. Allah mendeskripsikan matematika dalam Alquran, untuk memelihara komitmen isi dan bacaan serta kandungan yang ada didalamnya. Mempelajari matematika dalam alquran sangat menarik, terutama saat mengupas angka demi angka yang terdapat pada kitab umat muslim ini. Sungguh Allah SWT telah menciptakan alam dengan sangat teliti .
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Jin ayat 28 :
Artinya : "Supaya dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu."
Dalam QS.Al-Jin:28 di atas, jelas sekali dipaparkan bahwasanya Allah telah memperhitungkan dan memperkirakan dengan pasti segala bentuk penciptaan dan dalam setiap kekuasaan yang dimiliki-Nya, “Tuhan menciptakan sesuatunya dengan hitungan teliti.”
Dalam ayat lain Allah juga menegaskan :
Artinya : “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.” (QS Maryam ayat 93-94)
Sesuai dengan ayat Al-Qur’an QS.Maryam:93-94 diatas, memperjelas bahwa segala sesuatu yang tercipta dan yang terjadi di dunia ini tidak dengan unsur kebetulan. Tetapi semuanya telah diatur secara pasti oleh Allah swt. dengan perhitungan yang sangat teliti dan jauh dari kesalahan.
Seorang ilmuwan Galileo (1564-1642 AD) pernah mengungkapkan bahwa : “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini).”
B. Pembuktian Al-Qur’an dengan Matematika
Angka adalah ruh dari matematika, sebuah bahasa murni ilmu pengetahuan (linguapura) yang diyakini oleh Carl Sagan, seorang Fisikawan sebagai bahasa universal alam semesta. Matematika bukan ciptaan manusia-manusia berintelegensi tinggi seperti Euclid Phytagoras, Archimedes, Al-Khawarizmie, Galileo, Kepler, ataupun Stephen Hawking. Matematikawan tidaklah menciptakan matematika, namun mereka menemukan adanya aturan atau persamaan matematika dalam segala hal yang dicitakan oleh Allah swt.
Al-Qur’an mengandung mukjizat, Simbol-simbol makna yaitu lafadz-lafadznya juga merupakan mukjizat. Untuk membuktikan kebenaran mukjizat Al-Qur’an, dilakukan berbagai cara. Salah satunya dengan menghubungkan Al-Qur’an dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada.
Dalam pembuktian Al-Qur’an menggunakan Tafsir bil ‘ilmi, ditemukan banyak kelemahan, salah satunya disebabkan karena logika yang dipakai kebanyakan adalah logika induktif. Berbeda dengan matematika yang mempunyai 3 sifat, yaitu deduktif, terstruktur, serta berfungsi sebagai Ratu sekaligus Pelayan Ilmu.
Sebagai ilmu Deduktif, matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan. Walaupun dalam matematika, kebenaran bisa dimulai secara induktif. Namun kebenaran generalisasi yang diambil harus bisa dibuktikan secara deduktif. Logika deduktiflah yang dipakai, dan hukum-hukum logika dalam matematika dapat menspesifikasikan makna dalam pernyataan matematis. Contohnya: Jika kita mengatakan bahwa seluruh bilangan genap habis dibagi 2, maka kita harus mampu membuktikannya untuk keseluruhan bilangan genap, walaupun sebelumnya kita telah mengambil suatu aksioma berupa pernyataan bahwa “2n adalah bilangan genap.”
- Sejalan dengan pengertian matematika, perlu kita ketahui pula, bahwasanya salah satu jenis mukjizat dari Al-Qur’an adalah i’jaz ‘abadi(Mukjizat yang bersifat bilangan). I’jaz ‘abadiinilah yang kemudian dijadikan rujukan sebagai sebuah pendekatan pembuktian mukjizat baru, yaitu dengan ilmu matematika. Seperti yang pernah dilakukan oleh A.Salma Alif Sampayya, Abu Zahra An-Najdi, dsb.
Pembuktian Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu sains non-matematik sangat berbeda dengan pembuktian secara matematika. Matematika membuktikan kebenaran Al-Qur’an bukan dengan observasi terhadap alam, namun dengan mencari titik temu dan keseimbangan bilangan dalam Al-Qur’an. Di antaranya ditemukannya keseimbangan jumlah kata Syahr(bulan) sebanyak 12 kali, Sholawat (jama’ dari kata Sholat) adalah 5 kali, Ad-dunya dan Al-akhiroh yang disebutkan dalam frekuensi yang sama, yaitu 115 kali.
C. Keterkaitan Matematika terhadap Rukun Islam.
Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam. Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistem bilangan 19 (kelipatan 19).
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, agama islam berdiri tegak atas 5 pilar. Yaitu :
1. Syahadat.
2. Shalat.
3. Puasa.
4. Zakat.
5. Haji ke Baitullah.
Berikut akan dijelaskan tentang keterkaitan ke-5 Rukun Islam itu dengan angka-angka.
1. Syahadat
Syahadat berasal dari kata syahida yang berarti(ia telah) menjadi saksi. Syahadat adalah pernyataan meyakini bahwa tidak ada sembahan yang haq selain Allah swt, dan bahwa Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulnya. Syahadat merupakan asas bagi rukun islam lainnya.
Syahadat terdiri dari dua kalimat :
Kalimat pertama : Asyhadu an-laa ilaaha illallaah(saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah).
Kedua kedua : wa Asyhadu anna muhammadan rasulullaah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul/utusan Allah).
Rukun syahadat : Laa Ilaaha Illallah
A. An-Nafyu (Peniadaan)
Kalimat “Laa ilaaha” menafikan, menolak, dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah selain Allah, apapun jenis dan bentuknya. Baik masih hidup ataupun yang sudah mati, baik itu malaikat, jin, manusia biasa, nabi, benda, binatang, maupun pemikiran, kekayaan, kekuasaan, dan seterusnya.
B. Al-Itsbat (penetapan)
Kalimat “Illallah” menetapkan bahwa hanya Allah swt. satu-satunya yang berhak untuk disembah. Sehingga makna kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah adalah : “tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah”. Oleh karena itu, semua yang disembah selain Allah adalah Bathil, zholim, dan melampaui batas.
Kata Laa Ilaaha Illallah.
Nilai-nilai numeric dari setiap huruf arab pada kalimat syahadat (tauhid) diatas dapat ditulis sebagai berikut.
“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5“
Jika susunan angka-angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x …
Atau dengan kata lain merupakan kelipatan 19.
2. Shalat
Shalat adalah tiang agama, cahaya keimanan, dan obat penawar hati serta solusi segala persoalan. Karena ia mencegah perbuatan keji dan mungkar serta menjauhkan jiwa dari kecenderungan kepada kejahatan dan tabi’at buruk lainnya. Kata sholawat yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat” muncul di Al-Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk mengerjakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al-Qur’an. Selanjutnya jumlah raka’at dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah raka’at pada shalat shubuh, zuhur, ashar, maghrib dan ‘isya masing-masing adalah 2,4,4,3,4 raka’at. Jika jumlah tersebut disusun menjadi sebuah angka, 24434 merupakan kelipatan dari angka 19 (yaitu 19 x 1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah raka’at dalam sehari semalam.
Untuk hari Jum’at, jumlah raka’at shalat adalah 15, karena shalat jum’at jumlah raka’atnya adalah 2 raka’at. Ini juga berkaitan dengan angka 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hai Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah raka’at shalat mulai hari sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut : 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan itu kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan kelipatan 19 (19 x 903774587985).
Jadi, pada intinya shalat adalah menyembah Allah yang satu (ingat: 19 adalah total nilai numeric dari kata ‘waahid’). Surat Al-Fatihah yang dibaca setiap raka’at dalam shalat juga mengacu kepada angka 19. Selanjutnya, kata “shalat” dalam Al-Qur’an disebutkan 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 (19 x 246).
3. Puasa
Puasa dalam Bahasa Arab disebut shaum yang berarti menahan diri dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbir fajar sampai terbenamnya matahari.
Perintah puasa dalam Al-Qur’an disebutkan dalam ayat-ayat berikut :
- 2 : 183, 184,185, 187, 196 ;
- 4 : 92 ; 5 : 89, 95 ;
- 33 : 35, 35 ; dan
- 58 : 4
Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387 (19 x 73). Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.
4. Zakat
Menurut bahasa, kata zakat merupakan kata dasar (mashdar) dari zaka yang berarti berartiberkah, tumbuh, bersih,dan baik. Secara istilah adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’.
5. Haji
Haji secara etimologi berarti berkunjung. Adapun secara terminology adalah mengunjungi Baitul Haram dengan amalan tertentu, pada waktu tertentu.
Haji di sebutkan dalam Al-Qur’an pada ayat-ayat berikut :
- 2 : 189, 196, 197 ;
- 9 : 3 ; dan
- 22 : 27.
Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini bukan merupakan kelipatan 19, karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.
Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu, hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan zakat dan haji. Jika dari kata zakat dan haji digabungkan diperoleh nilai total 2395 + 645 = 3040 (19 x 160)
D. Rahasia Al-Qur’an Dibalik Angka 19
Keistimewaan angka 19 dalam ilmu matematika dikenal sebagai salah satu ‘bilangan prima’ yakni bilangan yang tak habis dibagi dengan bilangan manapun kecuali dengan dirinya sendiri. Keistimewaan tersebut menunjukkan salah satu sifat Allah yakni “Maha Esa”. Angka 19 terdiri dari angka 1 dan 9, di mana angka 1 merupakan bilangan pokok pertama dan 9 merupakan bilangan pokok terakhir dalam system perhitungan kita. Keistimewaan tersebut menunjukkan sifat Allah, yakni Maha Awal dan Maha Akhir (QS : 57).
Bahwa angka 19 adalah kode matematika yang melatar belakangi komposisi literer Qur’an, suatu fenomena unik yang tiada duanya yang sekaligus membuktikan bahwa Qur’an adalah wahyu ilahi, bukan karya otak manusia. Otak manusia tidak akan mapu mencipta karya Literer yang tunduk ada suatu kode matematik yang sekaligus membawa tema utamanya. Apalagi mengingat turunnya wahyu secara berangsur-angsur, dengan bahagian-bahagian surat yang acak tidak berurutan, disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa yang melatar belakanginya.
Angka 19 pulalah yang selanjutnya berfungsi untuk memelihara keutuhan Al-Qur’an. Angka 19 dapat digunakan untuk mengecek ulang apakah dalam Al-Qur’an terdapat kesalahan atau tidak, dengan cara menghitung kata-kata krusial yang jumlahnya dalam Al-Qur’an multiplikatif dengan angka 19, kemudian membagi angka hasil hitungan dengan 19, maka akan terlacaklah ada atau tidaknya suatu kesalahan.
Seorang sarjana dari Mesir, Rashad Khalifa berhasil menyingkap tabir kerahasiaan kandungan Al-Qur’an yang telah dipertanyakan selama berabad-abad lamanya. Ia melakukan penelitian dengan menggunakan bantuan komputer, ternyata hasil penelitian itu sangat mencengangkan. Ternyata ia mendapati bukti bahwa surat-surat atau ayat-ayat dalam Al-Qur’an serba berkelipatan 19. Hasil penemuannya tahun 1976 yang sangat mengagetkan ini kemudian didemonstrasikan di depan umum ketika diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London.
Berdasarkan panduan penafsiran Al-Qur’an surat Al-Mudatstsir ayat:30-31 yang berarti :
"Di atasnya ada Sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah kami jadikan bilangan mereka itu untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir , supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu–ragu, dan supaya orang-orang yang didalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir yang mengatakan : "apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?" Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan member petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan dia sendiri. Dan saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS.Al-Mudatstsir;30-31)
Sesuai dengan penafsiran ayat di atas, menghasilkan penemuan-penemuan antara lain sebagai berikut:
1. Kita mengetahui bahwa setiap surat-surat dalam Al-Qur’an diawali dengan bacaan “basmalah” sebagai statement pembuka, yaitu “bismillahirrahmanirrahim” (dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang). Ternyata bacaan basmalah tersebut (dalam bahasa arabnya) terdiri dari 19 huruf (19 x 1)
2. Bacaan “basmalah” terdiri dari kelompok kata: ismi-Allah-Arrahman-Arrahim. Penelitian menunjukkan jumlah masing-masing kata tersebut dalam Al-Qur’an ternyata selalu merupakan kelipatan angka 19.
a. Jumlah kata Ismi dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 19 kata (19 x 1)
b. Jumlah kata Allah dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 2.698 kata (19 x 142)
c. Jumlah kata Ar-Rahman dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 57 kata (19 x 3)
d. Jumlah kata Ar-Rahim dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 114 kata (19 x 6)
3. Jumlah total keseluruhan surat-surat dalam Al-Qur’an sebanyak 114 surat (19 x 6)
4. Bacaan Basmalah dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 114 kata dengan perincian sebagai berikut:
a. Sebanyak 113 kata ditemukan sebagai pembuka surat-surat kecuali surat ke-9, sedangkan satu kata lainnya ditemukan di surat ke-27 ayat 30.
b. Berbeda dengan surat-surat lain, surat ke-9 memang khusus sengaja tidak diawal dengan bacaan “basmalah”, karena isinya merupakan ayat-ayat perang.
c. Pada surat ke-27 ayat 30, tempat ditemukannya basmalah, dan kalau bilangan surat dan ayatnya dijumlahkan hasilnya merupakan kelipatan 19, yaitu 27+30=57 (19 x 3)
5. Dari point 4 diatas ditemukan hubungan yang menarik antara surat ke-9 dengan surat ke-27. Surat ke-27 ternyata merupakan surat yang ke-19 jika dihitung dari surat ke-9.
6. Dari point 5 di atas, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-9 sampai surat ke-27 (9+10+11+…+25+26+27), maka hasilnya adalah 342 (19 x 18)
7. Wahyu pertama (Surat ke-96 ayat 1-5) terdiri dari 19 kata (19 x 1) dan 76 huruf (19 x 4)
8. Wahyu yang kedua (surat ke-68 ayat 1-9) terdiri dari 38 kata (19 x 2)
9. Wahyu yang ketiga (surat ke-73 ayat 1-10) terdiri dari 57 kata (19 x 3)
10. Wahyu yang terakhir (surat ke-110) terdiri dari 19 kata (19 x 1), dan ayat pertama dari surat ke-110 tersebut terdiri dari 19 huruf (19 x 1)
11. Wahyu yang pertama sekali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19 (19 x 1) yaitu surat ke-112.
12. Surat ke-96 tempat terdapatnya wahyu pertama, terdiri dari 19 ayat (19 x 1) dan 304 huruf (19 x 16). Selain itu juga ternyata surat ke-96 tersebut merupakan surat ke-19 bila diurutkan/dihitung mundur dari belakang Al-Qur’an.
13. Dari point 12, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-114 sampai surat ke-96 (114+113+112+…+98+97+96) maka hasilnya adalah 1995 (19 x 105)
14. Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci di Dunia yang memiliki tanda-tanda khusus (initials) berupa huruf-huruf (code letters) atau sebagaimana disebut dalam bahasa arab “muqatta-‘aat” yang artinya “kata singkatan”.
15. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) surat-surat yang diawali dengan 14 (empat belas) macam kombinasi dari 14 huruf-huruf “muqatta-‘aat”. 14 huruf-huruf itu adalah: alif, lam, mim, ra’, kaf, ha’, yaa’,‘ain, shad, tha’, shin, qaf, nun, dan kha’.
16. 29 surat itu adalah : 2, 3, 7, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, dan 68. Maka apabila bilangan dari banyaknya huruf, banyaknya kombinasi, dan banyaknya surat dijumlahkan maka hasilnya merupakan kelipatan 19, yaitu 14+14+29+57 (19 x 3)
17. Tanda-tanda dengan kata singkatan ini , ahli tafsir mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat “mutasyaabihat”, ada pula yang berpendapat huruf-huruf abjad itu berfungsi untuk menarik perhatian para pendengan supaya memperhatikan bacaan-bacaan dalam Al-Qur’an. Namun berkat penemuan angka 19 , kini terbukalah maksud sesungguhnya dari adanya huruf-huruf “muqatta-‘aat” tersebut, yaitu berfungsi sebagai penjaga keaslian / keotentikan Al-Qur’an karena berhubungan dengan angka 19.
18. Surat ke-68 diawali huruf ‘Nun’. Setelah diteliti, jumlah huruf ‘Nun’ yang terdapat ada huruf tersebut adalah 133 (19 x 7). Berikut terjemahan surat ke-68 ayat 2-6 : “Nun. Berkat kemuliaan Tuhanmu, engkau (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila, dan sesungguhnya bagimu pahala yang besar, dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur, maka kelak kamu akan melihatdan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa diantara kamu yang gila.”
19. Surat ke-42, dan surat ke-50 diawali huruf 'qaf' yang terdapat pada kedua surat tersebut sebanyak 114 huruf (57+57=114=19 x 6). Ada yang berpendapat bahwa huruf ‘qaf’ ini singkatan dari kata ‘qur’an’ karena Qur’an terdiri dari 114 surat. Hal lain yang mengherankan adalah Allah biasanya menyebut kaumnya Nabi Luth dengan kalimat “Qaumu Luuth” yang ditemukan sebanyak 12 kali dalam Al-Qur’an, namun pada surat ke-50 ayat 13, sebutan tersebut berganti menjadi “ikhwanu Luuth” yang artinya “saudara-saudara Luth”. Tampaknya Allah sengaja menghilangkan unsur ‘qaf’ dalam kalimat tersebut, al-Qur’an yang sangat mulia. "mereka tercengang lantaran datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir : “ini sesuatu perkara yang sangat aneh."
20. Surat ke-42 diawali huruf ‘ain, sin, dan qaf. Setelah diteliti jumlah total ketiga huruf tersebut pada surat ke-42 (98+54+57=209= 19 x 11)
21. Surat ke-36 diawali huruf yaa dan sin. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut dalam surat ke-36 (237+48=285 = 19 x 15)
22. Surat ke-13 diawali huruf alif, lam, mim, danraa. Jumlah total huruf-huruf tersebut dalam surat ke-13 (605+480+260+137=1482 = 19 x 78)
23. Surat ke-7 diawali huruf alif, lam, mim, danshad. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-7 (2529+1530+1164+97=5320 = 19 x 280)
24. Surat ke-19 diawali huruf kaf, haa, yaa, ‘ain,shad. Jumlah total huruf-huruf tersebut dalam surat ke-19 (137+175+343+117+26=798= 19 x 42)
25. Surat ke-7, 19 dan 38 diawali huruf ‘shad’ dalam ketiga surat tersebut (97+26+29=152= 19 x 8)
Ada hal yang menarik yakni pada surat ke-7 ayat 69 ditemukan kata “basthatan” (jika diejaba, shad, tha, ta). Padahal lazimnya kata tersebut haruslah dieja dengan huruf ba, sin,tha, ta (contoh pada surat ke-2 ayat 247). Menurut riwayat, pada saat turunnya ayat 69 tersebut Jibril menyuruh Nabi Muhammad saw. menulis kata “basthatan” dengan huruf ‘shad’, itu tetap harus dibaca ‘sin’, dan hal ini ditandai dengan menempatkan huruf ‘sin’ tersebut sebagai huruf kecil diatas huruf ‘shad’ agar jumlahnya dalam Al-Qur’an menjadi berkelipatan 19. Sebab jika tidak, jumlahnya berkurang menjadi 151. Berikut terjemahan surat ke-7 ayat 69: "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran ketika datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh laki-laki di antaramu untuk member peringatan kepadamu? Dan ingatlah ketika Allah menjadikan kamu sebagai angkatan pengganti sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhanmu telah ‘melebihkan’ kekuatan tubuh dan perawakanmu."
26. Surat ke-10, 11, 12, 14, dan 15 diawali hurufalif, lam, dan raa. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19
- Surat ke-10 : 1319 + 913 + 257 = 2489 (19 x 131)
- Surat ke-11 : 1370 + 794 + 325 = 2489 (19 x 131)
- Surat ke-12 : 1306 + 812 + 257 = 2375 (19 x 125)
- Surat ke-14 : 585 + 452 + 160 = 1197 (19 x 63)
- Surat ke-15 : 493 + 323 + 96 = 912 (19 x 48)
27. Surat ke-2, 3, 29, 30, 31, dan 32 diawali huruf alif, lam, dan mim. Jumlah total huruf-huruf dalam surat-surat tersebut juga merupakan kelipatan 19
- Surat ke-2 : 4502 + 3202 + 2195 = 9899 (19 x 521)
- Surat ke-3 : 2521 + 1892 + 1249 = 5662 (19 x 298)
- Surat ke-29 : 774 + 554 + 344 =1672 (19 x 88)
- Surat ke-30 : 544 + 393 + 317 = 1254 (19 x 66)
- Surat ke-31 : 347 + 297 + 173 = 817 (19 x 43)
- Surat ke-32 : 257 + 155 + 158 = 570 (19 x 30)
Karya Ilmiah (bahts 'ilmi) : ZAINURRAHMAN