Minggu, 29 Juli 2018

HAKIKAT SIANG & MALAM

HAKIKAT SIANG DAN MALAM

Oleh : Zainurrahman,S.Pd
Pergantian siang dan malam merupakan bukti tanda-tanda kekuasaan Allah Ta'ala.Ayat-ayat di dalam Al-Qur'an tentang siang dan malam;
فَالِقُ الْاِصْبَاحِ ۚ  وَ جَعَلَ الَّيْلَ سَكَنًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا   ؕ  ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.[QS. Al-An'am: Ayat 96].

يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ  ؕ  وَهُوَ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.[QS. Al-Hadid: Ayat 6].
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ  ۖ   وَتُخْرِجُ الْحَـيَّ مِنَ الْمَيِّتِ 
وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَـيِّ  ۖ   وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Engkau masukkan malam ke dalam siang danEngkau masukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan."[QS. Ali 'Imran: Ayat 27].
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَاۤ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَاۤ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ  ؕ  وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang-benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.[QS. Al-Isra': Ayat 12].
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ کُلِّ دَآ بَّةٍ ۖ  وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.[QS. Al-Baqarah: Ayat 164].
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ  ۖ   كُلٌّ يَّجْرِيْۤ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّاَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.[QS. Luqman: Ayat 29].
يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ  ۙ  وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ   ۖ     ۖ   كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّى   ؕ  ذٰ لِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَـهُ الْمُلْكُ    ؕ  وَالَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ مَا يَمْلِكُوْنَ مِنْ قِطْمِيْرٍ  ؕ 
Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nya-lah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.[QS. Fatir: Ayat 13].

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۙ  يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا  ۙ  وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖ    ؕ  اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَالْاَمْرُ   ؕ  تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya.Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.[QS. Al-A'raf: Ayat 54].
وَسَخَّرَ لَـكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۙ  وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ  ؕ  وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمْرِهٖ  ؕ  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ۙ 
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti,[QS. An-Nahl: Ayat 12].
وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَاۤ اَنْزَلَ  اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ رِّزْقٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَ تَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ اٰيٰتٌ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.[QS. Al-Jasiyah: Ayat 5].
ذٰ لِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ
Demikianlah karena Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.[QS. Al-Hajj: Ayat6
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَـفًا مِّنَ الَّيْلِ   ؕ  اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ   ؕ  ذٰ لِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ  ۚ 
Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).[QS. Hud: Ayat 114].
اِنَّ فِى اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّتَّقُوْنَ
Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di Bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.[QS. Yunus: Ayat 6].
وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ   ۚ  نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَ ۙ 
Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan,[QS. Ya Sin: Ayat 37].
اَلَمْ يَرَوْا اَنَّا جَعَلْنَا الَّيْلَ لِيَسْكُنُوْا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا    ؕ  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan malam agar mereka beristirahat padanya dan (menjadikan) siang yang menerangi? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.[QS. An-Naml: Ayat 86].
وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاِدْبَارَ النُّجُوْمِ
dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar).[QS. At-Tur: Ayat 49].
Semoga kita menjadi orang yang pandai bersyukur atas karunia yang Allah Ta'ala berikan.Adanya tanda kekuasaan Allah pergantian siang dan malam semakin kita mendekatkan diri pada-Nya. 

Wallahu ta'alaa a'lam


Semoga bermanfaat.

Jumat, 27 Juli 2018

NARASI ANGKA DAN AL-QUR'AN

Kajian Integritas Matematika Dalam Pelaksanaan Shalat
Membicarakan angka, secara umum lekat dengan matematika. Sedangkan matematika sangat sulit untuk dijelaskan secara tepat. Pada umumnya orang awam hanya mengenal matematika berdasarkan operasinya yang meliputi tambah (+), kurang (-), kali (x) dan bagi (:) (Ayuasnantia:1).
Andriyani (2008:67) juga menjelaskan pengertian matematika yang hampir sama dengan penjelasan tersebut di atas.
“Pengertian matematika dapat dijawab secara berbeda-beda tergantung kapan pertanyaan itu dijawab, dimana dijawab, siapa yang menjawab dan apa saja yang dipandang, berbagai pendapat muncul tentang apa itu matematika sebagai ilmu tentang bilangan dan ruang, matematika juga didefinisikan sebagai suatu ilmu tentang struktur yang terorganisasi,matematika adalah ilmu deduktif: matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus pelayannya, matematika adalah bahasa simbol, matematika adalah bahasa numerik”
Dalam pemaparan di atas maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus pelayannya: matematika adalah bahasa simbol yang direlasikan dengan objek pembahasan yang terkait dengan agama. yaitu masalah perhitungan arah kiblat dan waktu salat umat Islam.
Matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus pelayan dalam perhitungan arah kiblat dan waktu salat, artinya sebagai ratu maka matematika dalam perkembangannya tidak dipengaruhi oleh perkembangan perhitungan arah kiblat dan waktu salat, sedangkan matematika sebagai pelayan dalam perhitungan arah kiblat dan waktu salat, berarti matematika memberikan dasar-dasar perhitungan arah kiblat dan waktu salat tersebut.
Matematika adalah bahasa simbol dalam perhitungan arah kiblat dan waktu salat, artinya dalam perhitungan arah kiblat dan waktu salat diperlukan sebuah bahasa dan simbol sebagai alat komunikasinya. Berkaitan dengan bahasa   Andriyani (2008:68) menjelaskan matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan terkait dengan arah kiblat dan waktu salat. Bahasa yang ingin disampaikan melalui matematika ini yang menurut penulis disebut dengan narasi.
Kembali ke fokus pembahasan terkait dengan tema, yang membahas tentang pelaksanaan salat yang akan direfleksikan sebagai integrasi matematika dan agama yang dimaknai sebagai narasi angka dan Al-Qur’an, maka pembahasan akan dimulai bahwa menjadi bagian dari seorang muslim yang taat dan patuh akan ajaran agamanya secara sungguh-sungguh. Di antara ajaran agama yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim yaitu terkait dengan salat. Salat dikerjakan oleh setiap orang muslim yaitu lima waktu sehari, dalam pelaksanaan tersebut ada aturan main yang harus diperhatikan.
Aturan main yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan salat diantaranya yaitu terkait dengan arah menghadap ketika pelaksanan salat. Terkait dengan arah kiblat, Allah telah menjelaskan dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 144.
Dalam ayat ini dijelaskan tentang arah kiblat umat Islam dalam beribadah, maka secara sederhana arah salat umat Islam yaitu mengarah ke Masjidil haram (Ka’bah). Di sisi lain, Bumi dimodelkan atau dideskripsikan Bumi seperti bola dan hari ini Bumi didiskripsikan bukan seperti bola melainkan pipih di kedua kutubnya, dengan diameter kutub 12.713,56 KM, sedangkan diameter equatornya 12.756,28 KM. Selaras dengan arah kiblat dan pendiskripsian bentuk Bumi tersebut, muslim di Indonesia menjalankan salat meyakini bahwa arah kiblat yang tepat yaitu ke arah barat serong ke utara dengan tingkat keserongan berrfariasi untuk masing-masing kota dan jika hal ini direlasikan dengan pemahaman bahwa Bumi ini berbentuk bola, maka sebenarnya jika salat umat Islam di Indonesia mengarah ke arah timur serong kesalatan (dari arah barat serong ke utara berputar ) maka sebenarnya tetap akan ketemu di Ka’bah.
Narasi Matematika dan Al-Qur’an dalam Penentuan Arah Salat Umat Islam, Sebagaimana dijelaskan, matematika terkait dengan narasi dimaknai bahwa matematika sebagai bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan terkait dengan arah kiblat, yaitu ke arah mana orang harus menghadap ketika melaksanakan salat dari setiap tempat yang ada di Bumi ini sehingga orang Indonesia salat tidak ada yang mengahadap ke timur serong ke selatanbisa dijawab dan dijelaskan dengan menggunakan.
Berdasarkan hasil perhitungan arah kiblat dalam kajian ilmu falak yang basis datanya adalah lintang dan bujur tempat (tempat yang akan dihitung dan Ka’bah) dan menggunakan rumus sebagai berikut:


Ternyata dapat diketahui bahwa Indonesia ke ka’bah jarak terdekat lewat ke barat serong ke utara, dibandingkan lewat timur serong ke selatan, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa arah kiblat orang Indonesia ke arah barat serong ke utara.
Sebagai contoh sebuah narasi angka dalam Al-Qur’an terkait dengan penetuan arah salat umat Islam yaitu dapat dijelaskan sebagai berikut;


Analisis Narasi Tabel
Berdasarkan tabel di atas, yang akan kita analisis sebagai contoh yaitu nomor 4, dimana data lintang dan bujur tempat semua menggunakan satuan derajat, menit, dan detik dalam satuan sudut yang hal ini dipelajari dalam matematika. Berdasarkan hal ini, matematika telah memerankan posisinya sebagai bahasa yang setiap orang akan memahami maksud yang ingin disampaikan. Sedangkan dihasil perhitungan sendiri, juga demikian.
Berdasarkan uraian dari awal hingga akhir, dapat disimpulkan bahwa matematika dan agama tidak ada jurang pemisah. Hadirnya matematika mempermudah urusan agama, yang dalam perannya tersebut matematika selalu memberikan bahasa untuk dimengerti oleh setiap orang.

Sumber :
http://ayuasnantia.student.umm.ac.id/artikel-pendidikan/, di akses tanggal 21 April 2012 pukul 13.23 WIB

Kamis, 26 Juli 2018

Keajaiban Al-Qur'an dari sisi Matematik

KEAJAIBAN AL-QUR'AN DARI SISI MATEMATIK


Oleh: Zainurrahman,S.Pd
Seorang profesor matematika yang manjadi guru besar di Kansas University, Amerika Serika tiba – tiba memutuskan untuk memeluk Islam setelah menelaah dan mendalami segenap keagungan dan keindahan Al-Quran.
Kehidupannya pun berubah drastis setelah menjadi muslim, ia menjadi seorang yang begitu taat dan setiap menjalani segala ketentuan dan ajaran yang diajarkan dalam Islam. Hal ini nampak kontras dengan kondisi semula dimana ia sebelumnya merupakan seseorang yang tak pernah mempercayai akan adanya Tuhan (Atheis).
Mungkin agaknya tersemat satu pertanyaan di hati pembaca, sebenarnya keagungan macam apa yang telah Profesor Matematika itu temukan dalam Al-Quran hingga menyebabkannya masuk Islam?
Rupanya, sang Profesor menemukan sisi lain Al-Quran yakni angka – angka luar biasa yang ada di dalam Al-Quran yang menyebabkannya kemudian beriman pada Allah.
Matematika Al-Quran merupakan sisi lain dari agung dan ajaibnya Al Quran, Matematika Al-Quran diawali dari kata syahr yang berarti bulan. Rupanya, dalam Al-Quran, kata syahr disebut sebanyak 12 kali, hal ini selaras dengan jumlah bulan dalam hitungan satu tahun yakni 12. Adapun kata yaum yang berarti hari, disebutkan sebanyak 365 kali dalam Al-Quran, hal inipun merujuk pada jumlah hari dalam satu tahun yakni sebanyak 365.
Berikutnya kata “lautan (perairan)” dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 32 kali, sementara kata “daratan” disebutkan sebanyak 13 kali. Apabila kedua bilangan itu ditambahkan, maka hasilnya angka 45. Ilmuwan mengungkap bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, rupanya bilangan ini merupakan hasil dari perkalian 32/45×100%. Sementara untuk presentase daratan menurut ilmuwan adalah 28.88888888889% dan ini rasio yang riil dari perkalian 13/45×100%.
Subhanallah, aduhai agungnya Al-Quran!
Seorang ilmuwan Muslim bernama Dr Rashad Khalifa, yang berkebangsaan Amerika keturunan Mesir menemukan sistem matematika pada desain Al-Quran. Dia mulai aktif mengkaji komposisi matematik dari Al-Quran pada tahun 1968 dan memasukkan Al-Quran dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970 yang kemudian dilanjutkan dengan menerjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Inggris pada awal 1970-an. Dia ingin menjelaskan inisial pada beberapa surat dalam Al-Quran seperti (Alif Lam Mim) yang umumnya hanya diberi penjelasan (hanya Allah yang tahu maknanya). Dengan proyek ini, ia memulai riset secara detil dan mendalam pada inisial – inisial tersebut setelah menemukan teks Al-Quran ke dalam sistem komputer dengan tujuan utama mencari pola matematis yang barangkali dapat menjelaskan pentingnya inisial – inisial tersebut.
Setelah beberapa tahun melakukan riset,  Dr Khalifa mempublikasikan temuan – temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Alphabets pada Oktober 1973. Pada buku tersebut hanya memaparkan bahwa inisial – inisial yang ada pada beberapa surat di dalam Al-Quran memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing – masing suratnya, dibandingkan huruf – huruf lain, misalnya surat ”Qaaf” (QS. No. 50) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar. Kenyataan ini benar dengan semua surat yang memiliki inisial, kecuali surat Yaa Siin (QS. No. 36), yang menunjukkan kebalikannya, yaitu huruf  “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah.
Berdasarkan penemuannya tersebut, ia kemudian menggabungkan dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator). Pada Januari 1974, ia menemukan bahwa ternyata bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum dalam inisial – inisial tersebut  dan seluruh penuisan dalam Al-Quran. Sungguh menakjubkan ternyata suluruh teks dalam Al-Quran telah tersusun secara sistematis  dan begitu canggih yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum.
Contohnya, bilangan 19 sebagai angka positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir, sebagaimana yang dikatakan Allah, misalnya saja pada QS. 57 ayat 3, “Dialah yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS 57:3)
Kata Waahid dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah, melainkan pada salah satu jenis makanan misalnya, atau pintu, dan lain sebagainya. Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dan nomer surat (nomer surat + jumlah ayat pada masing – masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keEsaan Allah.
Selain itu kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf Arab. Lalu Al-Quran terdiri dari 114 surah, 19×6. Selanjutnya, ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf. Lainnya, surah 96 (al-‘Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat. Lainnya lagi surat terakhir yang turun adalah surah An-Nashr atau surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surat terakhir yang turun dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.
Sama halnya dengan surah 74 ayat 30 yang artinya, “Di atasnya ada sembilanbelas.” Sebagian besar dari ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr Rasha Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan ujian/tes bagi orang – orang kafir, untuk meyakinkan orang – orang Yahudi dan Nasrani, untuk meningkatkan keimanan orang yang sudah beriman, dan juga untuk menghilangkan keragu – raguan pada ayat 31-nya. Jadi, menurut Dr Khalifa, bilangan 19 ini merupakan salah satu bilangan keajaiban dalam Al-Quran.
Langman’s Medical Embryology, oleh T.W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan adalah 280 hari atau 4 minggu setelah haid terakhir atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua – duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.
Dan masih banyak lagi angka – angka lain didalam Al-Quran yang habis dibagi 19. Hal ini menunjukkan akan hebat dan agungnya Al-Quran sebagai kitab suci karya Tuhan dan bukan buatan Muhammad ataupun manusia. Oleh sebab itu, sampai kapanpun tak akan ada makhluk yang bisa menandingi senarai kehebatan dan keajaiban yang terkandung dalam Al-Quran. Keasliannya akan tetap terjad sampai Hari Kiamat.
Allah menciptakan segala apa yang ada di alam semesta ini dengan perhitungan logika yang sangat matang atau logis (masuk akal) termasuk Al-Quran,  sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini.
Demikian kehebatan dan keagungan yang terkandung dalam Al-Quran, karena kehebatannya itu bahkan para ilmuwan Eropa sampai menelaah dan mencari fakta – fakta yang diungkap dalam Al-Quran untuk dijadikan bahan penelitiannya. Lantas mengapa umat islam yang jelasnya sebagai pemegang utama Al-Quran masih malas untuk mengkaji dan memperlajarinya secara mendalam?
Sepatutnya, dengan mengetahui segenap kehebatan dan keajaiban Al-Quran, hati dan nalar kita menjadi semakin yakin dan mengimani ayat – ayat yang terkandung di dalamnya, serta dapat meningkatkan taraf ketaqwaan kita kepada Allah subhanahu Wata’ala. Wallahu a’lam

LINGKARAN GERAK SHALAT

MATEMATIKA DALAM SHALAT


Oleh: Zainurrahman,S.Pd

Sesuatu hal yang keliru, ketika matematika dianggap sebagai ilmu yang abstrak, tidak memeliki pemaknaan terhadap konsep yang dipelajari, atau bahkan tidak apalikatif dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ternyata banyak disiplin ilmu yang justru membutuhkan konsep dalam matematika. Selain itu, disadari atau tidak konsep-konsep matematika justru teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh umat muslim ketika melaksanakan ibadah solat. Kita mendirikan shalat maka akan dihasilkan sudut-sudut yang menghasilkan 360 derajat dalam 1 kali rakaat, diantaranya sebagai berikut :

  • Yang pertama adalah sudut 180 derajat, suduti ini menggambarkan sebuah garis lurus yang terbentuk ketika berdiri dalam shalat.
  • Yang kedua sudut 90 derajat, pertmuan dua garis yang tegak lurus sempurna. Sebagaimana rasulullah ketika rukuk dalam shalat.
  • Yang ketiga ketika sudut 45 derajat ketika bersujud, yang dilakukan sebaganyak dua kali dalam setiap rakaat

HAKIKAT DZIKIR

oleh : Zainurrahman,S.Pd

1. Al-Qur’an

Dzikir itu artinya al-Qur’an sebagaimana firman Allah,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya(Q.S. al-Hijr: 9)
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44)
Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan (Q.S. An-Nahl: 44)
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ( 28  )
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. ( Q.S. Ar-Ra’du : 28 )
Semua kata “dzikr” dalam ayat-ayat di atas maksudnya al-Qur’an. Imam Ibnu Qoyyim berpendapat, “Dzikrullah itu ialah al-Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin. Dan tidak ada jalan untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan al-Qur’an“
Demikian firman Allah, juga ayat
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (An-Nahl:43)
Yang dimaksud ahli dzikir disini bukanlah yang suka membaca kalimat dzikir seperti membacalaailaha illallah 1000 kali dsb, tapi ahli dzikir di sini maksudnya ialah yang menguasai al-Qur’an dan Sunnah.
Mengapa al-Qur’an dikatakan dzikr, karena al-Qur’an berfungsi sebagai pengingat penggugah, dan penyadar. Dan arti dzikir itu sendiri ialah ingat, sadar.
Banyak bukti terjadi pada jaman Nabi saw, bagaimana orang yang asalnya tidak percaya kepada Allah, tidak mau melaksanakan perintah-Nya, dengan adanya al-Qur’an mereka menjadi sadar untuk mengabdi dan berbakti kepada Allah
Pada suatu saat umar marah, ketika mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad saw. meninggal, sambil menghunus pedang ia berseru, siapa yang mengatakan bahwa rasul telah meninggal! Lalu Abu Bakar dating menghampirinya sambil membacakan ayat, “wa maa muhammdun illa rasuul …” yang artinya “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasulApakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?”(Q.S. Ali Imran: 144), seketika itu pula umar sadar, lalu berkata, seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini.
Suatu hari, Ali Zainal Abidin, cucunya Ali bin Abi Thalib, menyuruh pembantunya uantuk mebawakan air wudhu, tanpa sengaja pembantunya tersebut menumpahkan air ke kakinya serta melukainya, Ali lalu marah kepadanya, sampai-sampai mau menempeleng dan menyiksanya. Dengan tenang pembantunya, membacakan ayat tentang ciri orang yang bertakwa ialah , wal kaazhimiina ghaizha, saat itu juga Ali sadar dan menjawab, ya saya tahan amarah saya, lalu dibacakan lagi lanjutan ayat tersebut, wal ‘aafiin ‘aninnas, Ali menjawab, ya saya maafkan kamu, kemudian ia melanjutkan lagi, wallaahu yuhibbul muhsinin, lalu Ali berkata, pergilah kamu, sekarang kamu menjadi manusia yang bebas.
Inilah bukti bahwa al-Qur’an merupakan, pengingat, penggugah, dan penyadar bagi manusia.

2. Sholat

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (14
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(Q.S. Thaha: 14)
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)
dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al0Ankabut: 45)
Ibnu ‘Atiyah berkata, “Sesungguhnya dalam sholat itu ada tiga hal, setiap shalat yang tidak terdapat padanya ketiga hal tersebut maka tidak dinilai shalat yang sempurna, yaitu ikhlas, rasa takut kepada allah, dan mengingat allah”
Orang Thaif adalah kaum yang paling terlambat menerima Islam, dan akhirnya mereka menerima Islam dengan persyaratan bahwa meraka hanya akan melaksanakan kewajiban shalat saja, sementara kewajiban yang lainnya, mereka belum siap melaksanakannya. Akhirnya, Rasul pun mengabulkan persyaratan mereka tersebut.
Setelah mereka menjalankan ibadah shalat, dana mersapi setiap bacaan shalat, akhirnya meraka sadar lalu menghadap Rasulullah, dan berkata, ya Rasulullah, dulu kami menolak untuk melaksanakan, zakat, shaum, dan kewajiban yang lainnya, sekarang kami sadar, dan siap untuk melaksanakan semua kewajiban yang yang diperintahkan kepada kami. Ini menjadi bukti bahwa dengan shalat yang benar, ternyata mereka menjadi sadar.
Apalagi bagi Rasulullah, jika beliau menghadapi suatu urusan yang tegang, berat, Nabi biasanya suka shalat 2 rakaat, untuk menenangkan, menyegarkan, dan berpikir lebih jernih.
Bahkan untuk menghentikan riba pun, ternyata juga dengan shalat. Setelah menerangkan riba, Allah menerangkan tentang shalat. Ternyata dengan shalat, diharapkan mampu menghentikan perbuatan riba. Demikianlah peran dan fungsi shalat, jika dihayati dengan benar, maka akan mampu membuat orang dapat meninggalkan fahsya dan munkar

3. Jum’at

Firman allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (9)
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Q.S. Al-Jumu’ah:9)
Jum’at merupakan dzikrullah, yaitu sejak persiapan jum’at, shalat intizharnya, mendengarkan khutbahnya, dan shalatnya.
Nabi menggambarkan ada 3 klasifikasi orang yang melaksanakan jum’at
1. ada orang yang hadir jum’at tapi hampa nilainya
2. Ada orang yang berdo’a dan besar harapan untuk dikabul do’anya, ia menggunakan kesempatan dan waktu tersebut untuk berdo’a kepada Allah. Karena Allah pun menjajikan ada saat ijabah di waktu jum’at.
3. ada orang yang dengan jum’atnya tersebut menjadi pelebur dosa, yang ada diantara jum’at ke jum’at.

4. Dzikrullah

Firman allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)
41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. 42. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. 43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Ahzab 41-43)
Dalam ayat ini, pertama diperintahkan agar orang-orangg beriman berdzikir kepada allah dengan dzikir yang banyak, kira-kira apa yang dimasud dzikir disini, mengingat ada ulama yang membagi dzikir itu kepada dua, dzikir dengan lisan saja dan dzikir dengan kenyataan, yaitu dengan sikap dan perilaku.
Yang dimaksud, dzikir yang banyak bukan dalam artian jumlah, seperti membaca laa ilaaha illalllah, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali, atau tiga ribu kali, setiap malam jum’at misalnya.Padahal bilangan itu tidak ada yang banyak, seratu banyak, tapi dibanding seribu sedikit, seribu dibanding sepuluh ribu sedikit, dan seterusnya. Ini menunjukkan banyak menurut jumlah itu relative.
Kita bandingkan dengan dzikirnya orang yang munafik, “orang munafik tidak dzikir kecuali hanya sedikit saja“. Sedikit disini bukan dalam arti jumlah. Kalau orang mu’min membaca tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali, tidak berarti orang munafiq itu membacanya dzikirnya masing-masing 10 kali.
Untuk mempraktekkan dzikir yang banyak dengan pengertian jumlah yang tadi, kadang menggunakan tasbih, tidak akan bisa dilaksanakan oleh setiap orang,
Seorang mu’min yang sadar ialah tentu saja setiap gerak langkahnya tentu saja akan ingat terhadap aturan dan ketentuan Allah di manapun merea berada.
Orang yang dzikrullah di pasar, tentu saja ia ingat bahwa tidak boleh menipu, tidak boleh berdusta, tidak boleh memanipulasi, tidak boleh berbuat curang, iangat bahwa itu semua diolarang oleeh agama Berarti ia telah berdzikir kepada Allah walaupun tidak membaca tasbih, tahmid, takbirdan sebagainya.
Yang kedua, Allah memerintahkan bertasbih kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Siang dan malam itu untuk menunjukkan waktu. Mungkin saja ada orang yang pagi sadar sore tidak, siang sadar malam tidak, dst. Oleh karena itu setiap waktu dituntut untuk dzikran katsiira, bukan dalam artian jumlah. Sementara banyak orang yang menafsirkan ayat ini dengan artian jumlah yang banyak
Misalkan wirid setelah shalat, membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali, dan tahlilsekali, jumlahnya seratus kali. Ada juga yang mengubahnya dengan laa ilaaha illalah 165 kali dengan suara yang keras dan gerakan tertentu. Dzikir dengan cara seperti ini tidak ada ketentuannya dari Rasulullah
Ada lagi dzikir khusus, katanya dalam hati manusdia itu ada beberapa bagian, manusia , untuk meni bagian ini membaca Allah 1000 kali, bagian lain 2000 kali, dst. Hal ini pun sama tida ada ketentuannya dari Rasulullah
Arti sholat dinisbahkan kepada Allah artinya memebrikan rohmat kepada manusia, shoilat dinisbahkan kepada malaikat artinya memeohonkan ampun, sholat dinisbahkan kepada manusia artinya berdo’a. Allah memberikan rahmat kepada manusia dengan menurunkan wahyunya untuk mengeluarkan manusia dari alam yang gelap ke alam yang terang benderang.
Imam al-Maraghi berkata, “Ingatlah kepada Allah dengan hati kamu, lisan kamu dan seluruh anggotamu dengan dzikir yang banyak dalam setiap keadaan kamu dengan penuh kesungguhan“.
Ada orang yang dzikir hanya dengan lisan saja, tapi tidak sadar, tidak disertai dengan hati. Seperti seorang anak kecil yang bernyanyi, “bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, ..”. ketika disuruh mandi ia malah marah-marah, karena ia tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.
Atau mungkin di satu rumah yang memiliki burung beo, ketika ada tamu yang datang, burung tersebut bersuara, ’silahkan masuk’. Walaupun sampai sepuluh kali burung tersebut mempersilahkan masuk tetap saja tamu tersebut tidak akan masuk. Tapi ketika pribuminya mengatakan ’silahkan masuk, walapun Cuma sekali, maka tamu tersebut akan masuk ke rumah. Kenapa demikian, karena burung itu berkicau, kalau manusia berbicara. Kita mungkin sering merasa do’a kita tidak dikabul oleh Allah, bisa jadi karena selama ini kita hanya berkicau seperti burung, bukannya berdo’a.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran 191)
Diantara ciri ulil albab ialah yang berdzikir dan berpikir. Ada orang yang berdzikir tapi tidak berpikir, maka akibatnya ketinggalan dalam bidang ekonomi, politik dsb. Adapula yang berpikir tapi tidak berdzikir, akibatnya orang tersebut sukses namun moralnya bejat, melakukan korupsi, manipulasi, dsb.
Nabi Isa a.s. berkata, “beruntung orang yang ucapannya mengingat Allah, diamnya bertafakur, dan pandangannya menjadi pelajaran“
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.S. Al-Baqarah:152)
Ibnu Sa’id bin Jubair berkata, ayat di atas maksudnya, “Ingatlah kalian dengan melaksanakan perintah-Ku maka Aku akan mengingatmu degan memberikan ampunan-Ku.
Kalau dianalogikan, jiak ada seorang istri berpesan kepada suaminya untuk selalu mengingatnya selama perjalanannya. Tentu saja cara mengingat isterinya itu ialah dengan mengingat pesan-pesannya, apa yang dimintanya, dan apa kebutuhannya, bukan dengan menyebut-nyebut namanya selama perjalanan tapi tidak ingat akan pesan-pesannya.
@Alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub

Rabu, 25 Juli 2018

RELATIVITAS WAKTU

RELATIVITAS WAKTU

oleh: Zainurrahman,S.Pd

Relativitas waktu adalah fakta yang terbukti secara ilmiah. Hal ini telah diungkapkan melalui teori relativitas waktu Einstein di tahun-tahun awal abad ke-20. Sebelumnya, manusia belumlah mengetahui bahwa waktu adalah sebuah konsep yang relatif, dan waktu dapat berubah tergantung keadaannya. Ilmuwan besar, Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.
Tapi ada perkecualian; Al Qur'an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:
"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 22:47)
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 32:5)
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun." (Al Qur'an, 70:4)
Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:
"Allah bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman: 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui'." (Al Qur'an, 23:122-114)
Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur'an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M, adalah bukti lain bahwa Al Qur'an adalah Kitab Suci.

MATEMATIKA AL-QUR'AN

KEAJAIBANMATEMATIKADALAM MEMBUKTIKAN KEBENARAN AL-QUR’AN 
Al-Qur’an adalah sumber agama islam pertama dan utama. Di dalam Al- Qur’an terdapat banyak sekali rahasia ilahi yang masih belum terungkap. Salah satunya adalah tentang maksud dan rahasia atas angka-angka yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan memperoleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al- Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lainnya.

A. Keterkaitan Matematika dengan Al- Qur’an 

Istilah Mathematics (Inggris) berasal dari bahasa Yunani, Mathematike yang berarti “relating to learning”. Berasal dari akar kataMathema yang berarti pengetahuan/ilmu, dan berhubungan erat dengan kata Mathanein yang berarti belajar/berpikir. Jadi, berdasarkan etimologi, kata Matematika berarti “ilmu yang diperoleh dengan bernalar”.
Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya. Secara empiris, diproses dalam struktur kognitif dan akhirnya disimpulkan dalam konsep matematika.
Matematika juga merupakan bahasa universal Ilmu Pengetahuan. Ilmuwan Jepang bisa berkomunikasi dengan Ilmuwan Jerman dengan Matematika, tidak perlu pakai bahasa inggris. Matematika juga merupakan “bahasa tuhan” dalam menciptakan alam semesta. Allah mendeskripsikan matematika dalam Alquran, untuk memelihara komitmen isi dan bacaan serta kandungan yang ada didalamnya. Mempelajari matematika dalam alquran sangat menarik, terutama saat mengupas angka demi angka yang terdapat pada kitab umat muslim ini. Sungguh Allah SWT telah menciptakan alam dengan sangat teliti .
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Jin ayat 28 : 
Artinya : "Supaya dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu."
Dalam QS.Al-Jin:28 di atas, jelas sekali dipaparkan bahwasanya Allah telah memperhitungkan dan memperkirakan dengan pasti segala bentuk penciptaan dan dalam setiap kekuasaan yang dimiliki-Nya, “Tuhan menciptakan sesuatunya dengan hitungan teliti.
Dalam ayat lain Allah juga menegaskan :
Artinya : “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.” (QS Maryam ayat 93-94)
Sesuai dengan ayat Al-Qur’an QS.Maryam:93-94 diatas, memperjelas bahwa segala sesuatu yang tercipta dan yang terjadi di dunia ini tidak dengan unsur kebetulan. Tetapi semuanya telah diatur secara pasti oleh Allah swt. dengan perhitungan yang sangat teliti dan jauh dari kesalahan. 
Seorang ilmuwan Galileo (1564-1642 AD) pernah mengungkapkan bahwa : “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini).
B. Pembuktian Al-Qur’an dengan Matematika
Angka adalah ruh dari matematika, sebuah bahasa murni ilmu pengetahuan (linguapura) yang diyakini oleh Carl Sagan, seorang Fisikawan sebagai bahasa universal alam semesta. Matematika bukan ciptaan manusia-manusia berintelegensi tinggi seperti Euclid Phytagoras, Archimedes, Al-Khawarizmie, Galileo, Kepler, ataupun Stephen Hawking. Matematikawan tidaklah menciptakan matematika, namun mereka menemukan adanya aturan atau persamaan matematika dalam segala hal yang dicitakan oleh Allah swt. 
Al-Qur’an mengandung mukjizat, Simbol-simbol makna yaitu lafadz-lafadznya juga merupakan mukjizat. Untuk membuktikan kebenaran mukjizat Al-Qur’an, dilakukan berbagai cara. Salah satunya dengan menghubungkan Al-Qur’an dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada.
Dalam pembuktian Al-Qur’an menggunakan Tafsir bil ‘ilmi, ditemukan banyak kelemahan, salah satunya disebabkan karena logika yang dipakai kebanyakan adalah logika induktif. Berbeda dengan matematika yang mempunyai 3 sifat, yaitu deduktif, terstruktur, serta berfungsi sebagai Ratu sekaligus Pelayan Ilmu.
Sebagai ilmu Deduktif, matematika tidak menerima generalisasi  berdasarkan pengamatan. Walaupun dalam matematika, kebenaran bisa dimulai secara induktif. Namun kebenaran generalisasi yang diambil harus bisa dibuktikan secara deduktif. Logika deduktiflah yang dipakai, dan hukum-hukum logika dalam matematika dapat menspesifikasikan makna dalam pernyataan matematis. Contohnya: Jika kita mengatakan bahwa seluruh bilangan genap habis dibagi 2, maka kita harus mampu membuktikannya untuk keseluruhan bilangan genap, walaupun sebelumnya kita telah mengambil suatu aksioma berupa pernyataan bahwa “2n adalah bilangan genap.”
  1. Sejalan dengan pengertian matematika, perlu kita ketahui pula, bahwasanya salah satu jenis mukjizat dari Al-Qur’an adalah i’jaz ‘abadi(Mukjizat yang bersifat bilangan). I’jaz ‘abadiinilah yang kemudian dijadikan rujukan sebagai sebuah pendekatan pembuktian mukjizat baru, yaitu dengan ilmu matematika. Seperti yang pernah dilakukan oleh A.Salma Alif Sampayya, Abu Zahra An-Najdi, dsb.

Pembuktian Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu sains non-matematik sangat berbeda dengan pembuktian secara matematika. Matematika membuktikan kebenaran Al-Qur’an bukan dengan observasi terhadap alam, namun dengan mencari titik temu dan keseimbangan bilangan dalam Al-Qur’an. Di antaranya ditemukannya keseimbangan jumlah kata Syahr(bulan) sebanyak 12 kali, Sholawat (jama’ dari kata Sholat) adalah 5 kali, Ad-dunya dan Al-akhiroh yang disebutkan dalam frekuensi yang sama, yaitu 115 kali.
C. Keterkaitan Matematika terhadap Rukun Islam.
Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam. Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistem bilangan 19 (kelipatan 19).
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, agama islam berdiri tegak atas 5 pilar. Yaitu :
1. Syahadat.
2. Shalat.
3. Puasa.
4. Zakat.
5. Haji ke Baitullah.
Berikut akan dijelaskan tentang keterkaitan ke-5 Rukun Islam itu dengan angka-angka.
1. Syahadat
Syahadat berasal dari kata syahida yang berarti(ia telah) menjadi saksiSyahadat adalah pernyataan meyakini bahwa tidak ada sembahan yang haq selain Allah swt, dan bahwa Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulnya. Syahadat merupakan asas bagi rukun islam lainnya.
Syahadat terdiri dari dua kalimat :
Kalimat pertama : Asyhadu an-laa ilaaha illallaah(saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah).
Kedua kedua : wa Asyhadu anna muhammadan rasulullaah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul/utusan Allah).
Rukun syahadat : Laa Ilaaha Illallah
A. An-Nafyu (Peniadaan)
Kalimat “Laa ilaaha” menafikan, menolak, dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah selain Allah, apapun jenis dan bentuknya.  Baik masih hidup ataupun yang sudah mati, baik itu malaikat, jin, manusia biasa, nabi, benda, binatang, maupun pemikiran, kekayaan, kekuasaan, dan seterusnya.
B. Al-Itsbat (penetapan)
Kalimat “Illallah” menetapkan bahwa hanya Allah swt. satu-satunya yang berhak untuk disembah. Sehingga makna kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah adalah : “tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah”. Oleh karena itu, semua yang disembah selain Allah adalah Bathil, zholim, dan melampaui batas.
Kata Laa Ilaaha Illallah
Nilai-nilai numeric dari setiap huruf arab pada kalimat syahadat (tauhid) diatas dapat ditulis sebagai berikut.
“30  1 – 1  30  5 – 1  30  1 – 1  30  30  5“
Jika susunan angka-angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x …
Atau dengan kata lain merupakan kelipatan 19
2. Shalat
Shalat adalah tiang agama, cahaya keimanan, dan obat penawar hati serta solusi segala persoalan. Karena ia mencegah perbuatan keji dan mungkar serta menjauhkan jiwa dari kecenderungan kepada kejahatan dan tabi’at buruk lainnya. Kata sholawat yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat” muncul di Al-Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk mengerjakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al-Qur’an. Selanjutnya jumlah raka’at dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah raka’at pada shalat shubuh, zuhur, ashar, maghrib dan ‘isya masing-masing adalah 2,4,4,3,4 raka’at. Jika jumlah tersebut disusun menjadi sebuah angka, 24434 merupakan kelipatan dari angka 19 (yaitu 19 x 1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah raka’at dalam sehari semalam.
Untuk hari Jum’at, jumlah raka’at shalat adalah 15, karena shalat jum’at jumlah raka’atnya adalah 2 raka’at. Ini juga berkaitan dengan angka 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hai Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah raka’at shalat mulai hari sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut : 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan itu kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan kelipatan 19 (19 x 903774587985). 
Jadi, pada intinya shalat adalah menyembah Allah yang satu (ingat: 19 adalah total nilai numeric dari kata ‘waahid’). Surat Al-Fatihah yang dibaca setiap raka’at dalam shalat juga mengacu kepada angka 19. Selanjutnya, kata “shalat” dalam Al-Qur’an disebutkan 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 (19 x 246).
3. Puasa
Puasa dalam Bahasa Arab disebut shaum yang berarti menahan diri dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbir fajar sampai terbenamnya matahari.
Perintah puasa dalam Al-Qur’an disebutkan dalam ayat-ayat berikut :
- 2 : 183, 184,185, 187, 196 ;
- 4 : 92 ; 5 : 89, 95 ;
- 33 : 35, 35 ; dan
- 58 : 4
Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387 (19 x 73). Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.
4. Zakat 
Menurut bahasa, kata zakat merupakan kata dasar (mashdar) dari zaka yang berarti berartiberkah, tumbuh, bersih,dan baik. Secara istilah adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’.
5. Haji 
Haji secara etimologi berarti berkunjung. Adapun secara terminology adalah mengunjungi Baitul Haram dengan amalan tertentu, pada waktu tertentu.
Haji di sebutkan dalam Al-Qur’an pada ayat-ayat berikut :
- 2 : 189, 196, 197 ;
- 9 : 3 ; dan
- 22 : 27.
Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini bukan merupakan kelipatan 19, karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.
Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu, hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan zakat dan haji. Jika dari kata zakat dan haji digabungkan diperoleh nilai total 2395 + 645 = 3040 (19 x 160)
D. Rahasia Al-Qur’an Dibalik Angka 19
Keistimewaan angka 19 dalam ilmu matematika dikenal sebagai salah satu ‘bilangan prima’ yakni bilangan yang tak habis dibagi dengan bilangan manapun kecuali dengan dirinya sendiri. Keistimewaan tersebut menunjukkan salah satu sifat Allah yakni “Maha Esa”. Angka 19 terdiri dari angka 1 dan 9, di mana angka 1 merupakan bilangan pokok pertama dan 9 merupakan bilangan pokok terakhir dalam system perhitungan kita. Keistimewaan tersebut menunjukkan sifat Allah, yakni Maha Awal dan Maha Akhir (QS : 57).
Bahwa angka 19 adalah kode matematika yang melatar belakangi komposisi literer Qur’an, suatu fenomena unik yang tiada duanya yang sekaligus membuktikan bahwa Qur’an adalah wahyu ilahi, bukan karya otak manusia. Otak manusia tidak akan mapu mencipta karya Literer yang tunduk ada suatu kode matematik yang sekaligus membawa tema utamanya. Apalagi mengingat turunnya wahyu secara berangsur-angsur, dengan bahagian-bahagian surat yang acak tidak berurutan, disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa yang melatar belakanginya.
Angka 19 pulalah yang selanjutnya berfungsi untuk memelihara keutuhan Al-Qur’an. Angka 19 dapat digunakan untuk mengecek ulang apakah dalam Al-Qur’an terdapat kesalahan atau tidak, dengan cara menghitung kata-kata krusial yang jumlahnya dalam Al-Qur’an multiplikatif dengan angka 19, kemudian membagi angka hasil hitungan dengan 19, maka akan terlacaklah ada atau tidaknya suatu kesalahan.
Seorang sarjana dari Mesir, Rashad Khalifa berhasil menyingkap tabir kerahasiaan kandungan Al-Qur’an yang telah dipertanyakan selama berabad-abad lamanya. Ia melakukan penelitian dengan menggunakan bantuan komputer, ternyata hasil penelitian itu sangat mencengangkan. Ternyata ia mendapati bukti bahwa surat-surat atau ayat-ayat dalam Al-Qur’an serba berkelipatan 19. Hasil penemuannya tahun 1976 yang sangat mengagetkan ini kemudian didemonstrasikan di depan umum ketika diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London.
Berdasarkan panduan penafsiran Al-Qur’an surat Al-Mudatstsir ayat:30-31 yang berarti :
"Di atasnya ada Sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah kami jadikan bilangan mereka itu untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir , supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab  yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu–ragu, dan supaya orang-orang yang didalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir yang mengatakan : "apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan member petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan dia sendiri. Dan saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS.Al-Mudatstsir;30-31)
Sesuai dengan penafsiran ayat di atas, menghasilkan penemuan-penemuan antara lain sebagai berikut:
1. Kita mengetahui bahwa setiap surat-surat dalam Al-Qur’an diawali dengan bacaan “basmalah” sebagai statement pembuka, yaitu “bismillahirrahmanirrahim” (dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang). Ternyata bacaan basmalah tersebut (dalam bahasa arabnya) terdiri dari 19 huruf (19 x 1)
2. Bacaan “basmalah” terdiri dari kelompok kata: ismi-Allah-Arrahman-Arrahim. Penelitian menunjukkan jumlah masing-masing kata tersebut dalam Al-Qur’an ternyata selalu merupakan kelipatan angka 19.
a. Jumlah kata Ismi dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 19 kata (19 x 1)
b. Jumlah kata Allah dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 2.698 kata (19 x 142)
c. Jumlah kata Ar-Rahman dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak  57 kata (19 x 3)
d. Jumlah kata Ar-Rahim dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 114 kata (19 x 6)
3. Jumlah total keseluruhan surat-surat dalam Al-Qur’an sebanyak 114 surat (19 x 6)
4. Bacaan Basmalah dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 114 kata dengan perincian sebagai berikut:
a. Sebanyak 113 kata ditemukan sebagai pembuka surat-surat kecuali surat ke-9, sedangkan satu kata lainnya ditemukan di surat ke-27 ayat 30.
b. Berbeda dengan surat-surat lain, surat ke-9 memang khusus sengaja tidak diawal dengan bacaan “basmalah”, karena isinya merupakan ayat-ayat perang.
c. Pada surat ke-27 ayat 30, tempat ditemukannya basmalah, dan  kalau bilangan surat dan ayatnya dijumlahkan hasilnya merupakan kelipatan 19, yaitu 27+30=57 (19 x 3)
5. Dari point 4 diatas ditemukan hubungan yang menarik antara surat ke-9 dengan surat ke-27. Surat ke-27 ternyata merupakan surat yang ke-19 jika dihitung dari surat ke-9.
6. Dari point 5 di atas, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-9 sampai surat ke-27 (9+10+11+…+25+26+27), maka hasilnya adalah 342 (19 x 18)
7. Wahyu pertama (Surat ke-96 ayat 1-5) terdiri dari 19 kata (19 x 1) dan 76 huruf (19 x 4)
8. Wahyu yang kedua (surat ke-68 ayat 1-9) terdiri dari 38 kata (19 x 2)
9. Wahyu yang ketiga  (surat ke-73 ayat 1-10) terdiri dari 57 kata (19 x 3)
10. Wahyu yang terakhir (surat ke-110) terdiri dari 19 kata (19 x 1), dan ayat pertama dari surat ke-110 tersebut terdiri dari 19 huruf (19 x 1)
11. Wahyu yang pertama sekali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19 (19 x 1) yaitu surat ke-112.
12. Surat ke-96 tempat terdapatnya wahyu pertama, terdiri dari 19 ayat (19 x 1) dan 304 huruf (19 x 16). Selain itu juga ternyata surat ke-96 tersebut merupakan surat ke-19 bila diurutkan/dihitung mundur dari belakang Al-Qur’an.
13. Dari point 12, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-114 sampai surat ke-96 (114+113+112+…+98+97+96) maka hasilnya adalah 1995 (19 x 105)
14. Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci di Dunia yang memiliki tanda-tanda khusus (initials) berupa huruf-huruf (code letters) atau sebagaimana disebut dalam bahasa arab “muqatta-‘aat” yang artinya “kata singkatan”.
15. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) surat-surat yang diawali dengan 14 (empat belas) macam kombinasi dari 14 huruf-huruf “muqatta-‘aat”. 14 huruf-huruf itu adalah: aliflammimra’kafha’yaa’,‘ainshadtha’shinqafnun, dan kha’.
16. 29 surat itu adalah : 2, 3, 7, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, dan 68. Maka apabila bilangan dari banyaknya huruf, banyaknya kombinasi, dan banyaknya surat dijumlahkan maka hasilnya merupakan kelipatan 19, yaitu 14+14+29+57 (19 x 3)
17. Tanda-tanda dengan kata singkatan ini , ahli tafsir mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat “mutasyaabihat”, ada pula yang berpendapat huruf-huruf abjad itu berfungsi untuk menarik perhatian para pendengan supaya memperhatikan bacaan-bacaan dalam Al-Qur’an. Namun berkat penemuan angka 19 , kini terbukalah maksud sesungguhnya dari adanya huruf-huruf  “muqatta-‘aat” tersebut, yaitu berfungsi sebagai penjaga keaslian / keotentikan Al-Qur’an karena berhubungan dengan angka 19.
18. Surat ke-68 diawali huruf ‘Nun’. Setelah diteliti, jumlah huruf ‘Nun’ yang terdapat ada huruf tersebut  adalah 133 (19 x 7). Berikut terjemahan surat ke-68 ayat 2-6 : “Nun. Berkat kemuliaan Tuhanmu, engkau (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila, dan sesungguhnya bagimu pahala yang besar, dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur, maka kelak kamu akan melihatdan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa diantara kamu yang gila.
19. Surat ke-42, dan surat ke-50 diawali huruf  'qaf' yang terdapat pada kedua surat tersebut sebanyak 114 huruf (57+57=114=19 x 6). Ada yang berpendapat bahwa huruf ‘qaf’ ini singkatan dari kata ‘qur’an’ karena Qur’an terdiri dari 114 surat.  Hal lain yang mengherankan adalah Allah biasanya menyebut kaumnya Nabi Luth dengan kalimat “Qaumu Luuth” yang ditemukan sebanyak 12 kali dalam Al-Qur’an, namun pada surat ke-50 ayat 13, sebutan tersebut berganti menjadi “ikhwanu Luuth” yang artinya “saudara-saudara Luth”. Tampaknya Allah sengaja menghilangkan unsur ‘qaf’ dalam kalimat tersebut, al-Qur’an yang sangat mulia. "mereka tercengang lantaran datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir : “ini sesuatu perkara yang sangat aneh."
20. Surat ke-42 diawali huruf ‘ainsin, dan qaf. Setelah diteliti jumlah total ketiga huruf tersebut pada surat ke-42 (98+54+57=209= 19 x 11)
21. Surat ke-36 diawali huruf yaa dan sin. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut dalam surat ke-36 (237+48=285 = 19 x 15)
22. Surat ke-13 diawali huruf aliflammim, danraa. Jumlah total huruf-huruf tersebut dalam surat ke-13 (605+480+260+137=1482 = 19 x 78)
23. Surat ke-7 diawali huruf aliflammim, danshad. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-7 (2529+1530+1164+97=5320 = 19 x 280)
24. Surat ke-19 diawali huruf kafhaayaa‘ain,shad. Jumlah total huruf-huruf tersebut dalam surat ke-19  (137+175+343+117+26=798= 19 x 42)
25. Surat ke-7, 19 dan 38 diawali huruf ‘shad’ dalam ketiga surat tersebut (97+26+29=152= 19 x 8)
Ada hal yang menarik yakni pada surat ke-7 ayat 69 ditemukan kata “basthatan” (jika diejabashadthata). Padahal lazimnya kata tersebut haruslah dieja dengan huruf basin,thata (contoh pada surat ke-2 ayat 247). Menurut riwayat, pada saat turunnya ayat 69 tersebut Jibril menyuruh Nabi Muhammad saw. menulis kata “basthatan” dengan huruf ‘shad’, itu tetap harus dibaca ‘sin’, dan hal ini ditandai dengan menempatkan huruf ‘sin’ tersebut sebagai huruf kecil diatas huruf ‘shad’ agar jumlahnya dalam Al-Qur’an menjadi berkelipatan 19. Sebab jika tidak, jumlahnya berkurang menjadi 151. Berikut terjemahan surat ke-7 ayat 69: "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran ketika datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh laki-laki di antaramu untuk member peringatan kepadamu? Dan ingatlah ketika Allah menjadikan kamu sebagai angkatan pengganti sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhanmu telah ‘melebihkan’ kekuatan tubuh dan perawakanmu."
26. Surat ke-10, 11, 12, 14, dan 15 diawali hurufaliflam, dan raa. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19
- Surat ke-10 : 1319 + 913 + 257 = 2489 (19 x 131)
- Surat ke-11 : 1370 + 794 + 325 = 2489 (19 x  131)
- Surat ke-12 : 1306 + 812 + 257 = 2375 (19 x 125)
- Surat ke-14 : 585 + 452 +  160 = 1197 (19 x 63)
- Surat ke-15 : 493 + 323 + 96 = 912 (19 x 48)
27. Surat ke-2, 3, 29, 30, 31, dan 32 diawali huruf aliflam, dan mim. Jumlah total huruf-huruf dalam surat-surat tersebut juga merupakan kelipatan 19
- Surat ke-2 : 4502 + 3202 + 2195 = 9899 (19 x 521)
- Surat ke-3 : 2521 + 1892 + 1249 = 5662 (19 x 298)
- Surat ke-29 : 774 + 554 + 344 =1672 (19 x 88)
- Surat ke-30 : 544 + 393 + 317 = 1254 (19 x 66)
- Surat ke-31 : 347 + 297 + 173 = 817 (19 x 43)
- Surat ke-32 : 257 + 155 + 158 = 570 (19 x 30)
Karya Ilmiah (bahts 'ilmi) : ZAINURRAHMAN

HAKIKAT SIANG & MALAM

HAKIKAT SIANG DAN MALAM Oleh : Zainurrahman,S.Pd Pergantian siang dan malam merupakan bukti tanda-tanda kekuasaan Allah Ta'ala....